MERAHASIAKAN AIB KELUARGA

Oleh: Teh Ninih Mutmainnah

Seluruh ummatku mendapat ampunan kecuali bagi orang-orang yang secara terang-terangan melakukan dosa. Dan yang termasu melakukan dosa dengan terang-terangan itu adalah seorang yang melakukan amalan pada suatu malam hingga paginya Allah menutupinya (rahasianya), kemudian tiba-tiba dia sendiri membuka (rahasianya) dan berkata “Hai fulan! Tadi malam saya melakukan perbuatan ini dan itu”. Dia segera memamerkan sesuatu yang Allah tutupi.” (Muttafaq ‘Alaih)

DAUN YANG JATUH TAK PERNAH MEMBENCI ANGIN

Dia bagai malaikat bagi keluarga kami. Merengkuh aku, adikku, dan ibu dari kehidupan jalanan yang miskin dan nestapa. Memberikan makan, tempat berteduh, sekolah, dan janji masa depan yang lebih baik.

Dia sungguh bagai malaikat bagi keluarga kami. Memberikan kasih sayang, perhatian, dan keteladanan tanpa mengharap budi sekalipun. Dan lihatlah, aku membalas itu semua dengan membiarkan mekar perasaan ini.

Ibu benar, tak layak aku mencintai malaikat keluarga kami. Tak pantas. Maafkan aku, ibu. Perasaan kagum, terpesona, atau entahlah itu muncul tak tertahankan bahkan sejak rambutku masih dikepang dua.

Sekarang, ketika aku tahu dia boleh jadi tidak pernah menganggapku lebih dari seorang adik yang tidak tahu diri, biarlah... Biarlah aku luruh ke bumi seperti sehelai daun... daun yang tidak pernah membenci angin meski harus terenggutkan dari tangkai pohonnya.

LOVASKET 1

Hidup Vira hancur ketika ayahnya dituduh melakukan korupsi dan harus dipenjara. Mendadak Vira kehilangan harta benda, kedudukannya sebagai ketua geng The Roses, teman-teman, pacar, bahkan dia dikeluarkan dari sekolahnya, SMA Altavia, SMA paling elite di Bandung. Akibatnya Vira jadi mogok hidup, juga mogok main basket yang sebetulnya merupakan "hidupnya". Dia merasa tidak ada gunanya punya teman lagi, karena terbukti teman-teman hanya mendampinginya saat dia berada pada puncak hidupnya.

Niken adalah Ketua OSIS SMA 31, SMA kecil di pinggiran Bandung. SMA 31 memutuskan akan memangkas anggaran ekskul sehingga ekskul-ekskul yang tidak berprestasi akan dihapuskan. Ini jadi tugas besar bagi Niken: dia harus menyeleksi ekskul mana yang akan dipertahankan dan mana yang harus dihapus. Di antara dilema besar ini, Niken melihat salah satu cara untuk menyelamatkan ekskul basket. Mungkin kalau dia bisa membujuk murid baru itu untuk bergabung dengan ekskul basket, ekskul ini bisa selamat. Selain itu, mungkin Niken juga bisa membuat murid baru yang kelihatan depresi itu lebih ceria. Mungkin Niken bisa membuat Vira tersenyum lagi....

MADZHAB-MADZHAB FILSAFAT PENDIDIKAN

A.    FILSAFAT PENDIDIKAN IDEALISME
Filsafat ini memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi, bukan fisik. Hakikat manusia adalah jiwanya, rohaninya, yakni apa yang disebut “mind”. Mind merupakan suatu wujud yang mampu menyadari dunianya, bahkan sebagai pendorong tingkah laku manusia. Plato mengatakan bahwa jiwa manusia sebagai “roh” yang berasal dari “ide” eksternel yang sempurna.
Tentang teori pengetahuan, idealisme mengemukakan pandangannya bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui indera tidak pasti dan tidak lengkap, karena dunia hanyalah merupakan tiruan belaka, sifatnya maya (bayangan), yang menyimpang dari kenyataan yang sebenarnya.Menurut pandangan idealisme, nilai itu absolut. Pada hakikatnya nilai itu tetap. Nilai tidak diciptakan manusia, melainkan merupakan bagian dari alam semesta.
Filsafat idealisme ini diturunkan dari filsafat idealis metafisik, yang menekankan pertumbuhan rohani. Kaum idealis percaya bahwa anak merupakan bagian dari alam spiritual, yang memiliki pembawaan spiritual sesuai dengan potensialitasnya. Oleh karena itu, pendidikan harus menekankan kesesuaian batin antara anak dan alam semesta.

B.     FILSAFAT PENDIDIKAN REALISME
Pada dasarnya, realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakikat realitas terdiri atas dunia fisik dan dunia rohani. Kneller membagi realisme dalam dua bentuk, yaitu:
1.      Realisme Rasional
Realisme rasional dapat didefinisikan pada dua aliran, yaitu realisme klasik dan realisme religius. Realisme klasik berpandangan bahwa manusia pada hakikatnya memiliki ciri rasional. Dunia dikenal melalui akal, dimulai dengan prinsip, di mana manusia dapat menjangkau kebenaran umum. Realisme religius berpendapat bahwa terdapat dua order. Yaitu order natural dan order supernatural. Kedua order tersebut berpusat pada Tuhan. Menurut realisme religius, tujuan utama pendidikan yaitu mempersiapkan individu untuk dunia dan akhirat.
2.      Realisme Natural Ilmiah
Realisme ini menyatakan bahwa manusia adalah organisme biologis dengan sistem saraf yang kompleks dan secara inheren berpembawaan sosial. Apa yang dinamakan berfikir merupan fungsi yang sangat kompleks dari organisme yang berhubungan dengan lingkungannya. Realisme natural mengajarkan bahwa baik dan salah adalah hasil pemahaman kita tentang alam, bukan dari prinsip-prinsip nilai agama atau dari luar alam ini.

HASIL ANALISIS PENYEIMBANGAN DEMOKRASI DENGAN HUKUM

           Indonesia sebagai negara demokrasi yang artinya dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat sepertinya sudah tidak lagi berlaku. Tujuan demokrasipun perlahan-lahan sudah mulai dilupakan dan terbengkalai. Sudah banyak penyalahgunaan pada demokrasi ini. Yaitu ditandai dengan maraknya penyalahgunaan jabatan. Rakyat seperti tidak ada peranannya lagi. Apalagi dalam segi mengemukakan pendapat. Hampir semua pendapat dari rakyat disepelekan hingga membuat makna demokrasi ini rusak dan berubah dengan kekuasaan sepenuhnya dipegang oleh pemerintah.
            Padahal pada kenyataannya untuk mencapai suatu tujuan atau cita-cita bersama, harus berlandaskan dengan kebersamaan. Salah satunya dengan cara musyawarah mufakat bersama agar semua pihak bisa menyetujui apa yang menjadi final keputusan negara berdasar kesepakatan bersama yang sudah dilaksanakan.
            Sebagai negara demokrasi sudah sepantasnya pemerintah menghargai rakyatnya. Sesuai dengan hukum yang berlaku dan pengertian dari demokrasi tersendiri. Rakyat juga mempunyai hak untuk berpendapat yang sepatutnya dihargai dan didengarkan dahulu.

MENYEIMBANGKAN DEMOKRASI DENGAN HUKUM

               Demokrasi saat ini banyak dibajak oleh kelompok mayoritas yang terjadi di berbagai daerah. Cita-cita demokrasi sebagaimana diamanatkan Pancasila sila keempat “....dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan...” senyatanya tidak lagi berlaku. Yang memimpin kerakyatan saat ini adalah uang.
            Sekarang ini, hampir dikatakan kedaulatan rakyat dalam pelaksanaan demokrasi hanya tertuang dalam teks. Selebihnya, nilai-nilai demokrasi, kerakyatan, dan kedaulatan hampir tidak terinternalisasi sebagai nilai-nilai kebersamaan yang harus dijunjung tinggi. Ini membuktikan bahwa demokrasi sudah keluar dari tujuannya.
            Alasan agama dijadikan sebagai pemicu utama perdebatan. Prinsip ketuhanan dan demokrasi menjadi pilihan. Kuatnya suatu negara adalah dengan dasar permusyawaratan. “Dengan cara mufakat, kita perbaiki segala hal juga keselamatan agama, yaitu dengan jalan pembicaraan atau permusyawaratan di dalam Badan Perwakilan Rakyat,” jelas Soekarno 1 Juni 1995. Hatta juga mengatakan, “Kalau Indonesia sampai merdeka, mestilah ia menjadi kerajaan rakyat, berdasar kemauan rakyat.”

LANDASAN RELIGIUS BIMBINGAN DAN KONSELING

Dalam pembahasan lebih lanjut tentang landasan religius bagi layanan bimbingan dan konseling perlu ditekankan tiga hal pokok. Yaitu:

1. Manusia Sebagai Makhluk Tuhan

Manusia di muka bumi ini sebagai khalifah atau pemimpin. Terutama dalam memimpin dirinya sendiri. Tuhan yang Maha Pemurah memberikan segenap kemampuan potensial kepada manusia, yaitu kemampuan yang mengarah pada hubungan manusia dengan Tuhannya dan yang mengarah pada hubungan manusia dengan sesama manusia dan dunianya. Penerapan segenap kemampuan potensial itu secara langsung berkaitan dengan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Wujud ketakwaan manusia pada Tuhan hendaklah seimbang dan lengkap.